PEMELIHARAAN JALAN RAYA PANTURA

PEMELIHARAAN JALAN RAYA PANTURA

  1. PENDAHULUAN

Dalam meningkatkan laju pembangunan dan peningkatan ekonomi pembangunan, jalan merupakan sarana penting di suatu daerah. Oleh karena itu pemeliharaan jalan harus selalu dilaksanakan agar bisa mencapai tingkat pelayanan tertentu dan fungsinya sebagai penghubung dari suatu daerah ke daerah lain bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Secara umum kita sudah dapat meningkatkan kapasitas beberapa ruas jalan pada daerah-daerah : Cikampek – Pamanukan- Lohbener- Jatibarang, Tegal / Brebes – Pekalongan, Semarang- Weleri, Tuban- Gresik, Surabaya- Pasuruhan, namun secara keseluruhan kita masih belum bisa meningkatkan kelancaran lalu-lintas sebagaimana yang dipersyaratkan.

Jalan raya pantura khususnya daerah Tegal – Brebes merupakan salah satu jalur penting yang menghubungkan kota-kota besar di pulau jawa. Hingga saat ini pembangunan masih berlangsung, mulai dari pemeliharaan, pelebaran dan perkerasan jalan.

Dalam hal ini akan membahas tentang pemeliharaan jalan secara efektif dan akan dijelaskan kondisi jalan raya pantura khususnya daeran Tegal-Brebes.

  1. KONDISI JALAN

Secara umun kondisi jalan raya pantura jawa sudah mengalami peningkatan yang cukup baik, tetapi ada beberapa ruas jalan yang masih sangat memprihatinkan yaitu jalan raya pantura Tegal-Brebes, masih banyak terlihat lubang, permukaan yang tidak rata dan kerusakan lain yang terlalu lama dibiarkan tanpa adanya perbaikan dari pihak-pihak yang terkait untuk menindak lanjuti masalah ini. Ini menjadi agenda pemerintah dalam usaha pemeliharaan dan perbaikan jalan.

clip_image002

Gb.1

Jalan beton baru berumur 3 tahun telah terjadi kerusakan yang cukup merepotkan. Kerusakan terjadi karena terjadinya differential settlement tanah dasar yang cukup besar. Retakan yang tidak beraturan,dan retakan berbentuk lengkung penurunan permukaan, lebar retakan lebih dari 2 mm, terjadi pada awal tahun dioperasikan. Retakan ini akibat beban berat lalu lintas dan daya dukung Sub- Grade yang rendah ( terjadi pemampatan ) dan tidak merata.

clip_image004

Gb.2

Permukaan perkerasan aspal pada musim panas, terjadi rutting dan lama terjadi lobang dan musim hujan lobang juga muncul cukup banyak.

  1. PEMELIHARAAN JALAN

clip_image006

Gb.3

Perbaikannya Slab dan LC (Lean Concrete) yang retak harus dibongkar, timbunan dan Sub-Grade yang tidak memenuhi syarat harus dibongkar dan dipadatkan kembali sehingga memenuhi syarat.

Tingginya frekuensi kendaraan yang lewat di permukaan jalan mengakibatkan turunnya tingkat pelayanan jalan. Karena pada umumnya kendaraan yang lewat di ruas jalan pantura merupakan kendaraan berat sehingga mengakibatkan kerusakan pada permukaan jalan. Adanya retak-retak (cracking), pengelupasan (ravelling), lubang-lubang (potholes) merupakan bukti bahwa jalan pantura Tegal-Brebes mengalami penurunan tingkat pelayanan atau kondisi jalan mengalami kerusakan. Kerusakan –kerusakan kecil seperti ini apabila tidak segera di antisipasi penangannya, menyebabkan kerusakan yang terjadi tambah parah dan dapat membahayakan lalu lintas serta mengurangi kapasitas jalan itu sendiri.

Pemeliharaan jalan merupakan serangkaian kegiatan yang diarahkan untuk menjaga agar struktur jalan dan fungsi jalan meningkat menjadi lebih baik. Pemeliharaan jalan raya ini perlu dilaksanakan mengingat sebagian struktur perkerasan jalan tidak dapat selalu rata selama umur rencananya tanpa adanya kerusakan. Ada masa dimana keadaan perkerasan jalan mulai memburuk hingga pada tingkat yang tidak layak, untuk itu diperlukan suatu pemeliharaan agar kondisi jalan kembali pada tingkat pelayanan yang memadai, sehingga lalu lintas kendaran dapat berjalan baik dan lancar.

1) Tujuan pemeliharaan jalan

Usaha melakukan perbaikan-perbaikan dengan tujuan untuk memperpanjang umur rencana biasa disebut dengan pekerjaan pemeliharaan jalan.

Dari survey kondisi jalan didapatkan hasil prioritas pemeliharaan jalan yang dapat berupa peningkatan jalan, overlay atau pemeliharaan rutin berupa penambalan-penambalan. Selain itu termasuk juga dalam pemeliharaan jalan yaitu penataan transportasi yang sesuai standar.

2) Penataan Transportasi.

Secara umum kita belum bisa menata atau mentrasformasi konsep-konsep yang dikembangkan Proyek Jalan Pantura ke unit-unit intitusi lain untuk ikut menata sistem transportasi barang dan jasa yang efektif, efisien dan selaras dengan moda transportasi di jalan jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa. Strategi dalam menata sistem transportasi barang dan jasa yang efektif, efisien dan selaras dengan moda transportasi di jalan jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa, akan dimulai dari penataan sistem pembatasan beban yang semula ditangani oleh Dinas Perhubungan (Dep Perhubungan), menjadi ditangani bersama antara PU, Perhubungan dan Polri. Dengan adanya pembatasan beban ini diharapkan akan mendorong pengembangan kendaraan berat dengan multi axle, integrasi moda darat- kerata api- dan kapal laut, sehingga akan mengurangi beban di jalur jalan Pantura Jawa. Ini juga sekaligus akan menurunkan biaya transportasi.

Persoalannya adalah bagaimana kita bisa mendorong pengangkutan jarak jauh dengan angkutan laut dan Kereta Api , menghapus pungli di moda laut dan KA serta mengurangi sistem loading Unloading. Ini memang bukan domain kita, namun karena sistem angkutan laut dan KA ini terkait dengan tugas kita dalam menyediakan prasarana transport darat di Pantura supaya lancar, aman, efisen, efektif, awet dan handal maka kita mau tidak mau, suka tidak suka kita harus ikut mendorong kearah sana dengan memperkenalkan sistem transportasi intermoda atau mengkapanyekan pada dunia usaha untuk menggunakan sistem intermoda karena moda laut, KA sudah tersedia di Pantura dan lebih kompetitif. Ini termasuk juga dalam pemeliharaan jalan.

Pemeliharaan jalan juga dapat dilaksanakan dengan membuat aturan-aturan bagi kendaraan yang lewat. Ukuran, berat, dan karakteristik yang ditetapkan untuk kendaran angkutan barang sangat berkaitan dengan standar lebar lajur, ruang bebas vertical, dan beban pada perkerasan jalan. Beban yang tidak sesuai dengan ketentuan dapat menyebabkan jalan menjadi lebih cepat rusak. Karena daya tahan pengaspalan tidak bertahan lama akibat tekanan berat yang berlebihan. Akibatnya terjadi banyak kerusakan jalan yang misalnya jalan retak, cacat permukaan aspal, atau amblasnya jalan. Hal ini tentu sangat mengganggu kenyamanan dalam mengemudi.

Untuk jalan Arteri Primer dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Kecepatan tempuh rata-rata di Pantura > 40 Km/Jam sepanjang 1.146,14 Km Kecepatan tempuh rata-rata di Pantura < 40 Km/Jam sepanjang 108.60 Km, atau kecepatan tempuh rata-rata secara gabungan adalah 49,5 Km/jam masih lebih kecil dari target yang ditetapkan oleh Dirjen Binamarga dalam tahun 2005 (50Km/jam).

Hal ini karena kita masih belum dapat mengurangi hambatan samping atau side friction, menata pasar tumpah, PKL serta masih sulitnya pembebasan lahan untuk peningkatan kapasitas.

Tingkat kerataan yang yang kita targetkan dibawah 6 m/Km, masih ada beberapa ruas yang diatas 6 m/km, (angka ini masih jauh dari ideal tergantung volume lalulintas).

Adapun jalan dengan:

IRI < 6 m/Km sepanjang 1.093,40 Km

IRI > 6 M/Km sepanjang 161,30 Km.

Sumbangan besar angka IRI disini adalah masalah pemeliharaan terutama patching. Kita masih belum mampu dan mau melaksanakan pemeliharaan/patching secara benar karena banyaknya kendala peralatan, dana/biaya per meter persegi, peralatan dan sistem pengadaan.

Program zero pothole selama satu tahun masih belum berjalan sebagaimana mestinya. Banyak lobang di jalan yang dibiarkan lebih dari 3 hari, padahal tiap minggu sudah ada laporan dari para pengamat masuk ke PPK (Bagpro).

clip_image008clip_image010

Gb.4 / 5 Pemeliharaan jalan Pantura Tegal Brebes

3) KENDALA PEMELIHARAAN JALAN

Program pemeliharaan rutin yang semula di kontrakkan mulai tahun 2005 ini kita geser menjadi swakelola dengan harapan supaya zero pothole berjalan dengan baik, ternyata juga belum berjalan sebagaimana mestinya, memang program ini seharusnya didukung adanya peralatan untuk patching yang memadai, dana yang siap pakai, sistem pengadaan yang cepat dan transparan, namun dilapangan kita temuai beberapa kendala diantaranya:

a). Peralatan

untuk Kegiatan pembangunan sampai sekarang belum didukung suatu peralatan UPR untuk patching, padahal ruas yang ditangani adalah pekerjaan yang sifatnya rutin yang dikerjakan secara swakelola.

Semula pekerjaan patching ini ditangani oleh Kontraktor, namun hasilnya kurang memadai karena pekerjaan ini dianggap kecil dan biaya produksinya mahal. Kontraktor cenderung menunda sampai besar (lebih 40 x 40 Cm), Petugas atau pengawas juga kurang jeli dan tegas dalam menyikapi kemalasan Kontraktor untuk melakukan patching sehingga pekerjaan cenderung rusak (secara dokumen kalau semua pihak memahami kontrak atau dokumen yang ada, tidak ada jalan nasional di Indonesia ini yang berlubang lebih dari 1 minggu).

Oleh karenanya untuk penanganan efektif dilaksanakan oleh Kontraktor dan penanganan efektif dilaksanakan dengan cara swakelola hasilnya lebih baik dan terjadi penghematan yang cukup signifikan terutama pada biaya paching untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pengguna jalan masih kurang konsisten. Untuk itu kita harus kembali membulatkan niat dan tekad kita serta konsisten dalam melakukan pemeliharaan jalan sehingga biaya transport dapat ditekan rendah.

b). Dana.

Dalam hal pendanaan sering terjadi kevacuman selama Hal ini menjadi terlambatnya pekerjaan patching. Apabila ditelusuri kenapa ini bisa terjadi, karena sistem Anggaran diterapkan tanpa adanya persiapan.

c). Sistem Pengadaan.

Sistem pengadaan ini perlu ditingkatkan, kita harus menjaga kemandirian dan tetap profesional dalam membuat keputusan-keputusan. Kedepan semua dokumen yang tidak jelas harus kita review kembali dan rekan rekan Panitia supaya lebih memahami lagi SOP yang sudah dipersiapkan Induk. Bagi Rekanan atau Penyedia Jasa pahamilah dokumen dan sistem evaluasi lelang yang dikeluarkan oleh Induk Kegiatan Pembangunan Jalan Pantura sebelum Pembukaan Lelang dengan tetap mengacu Kepmen

4) Meningkatkan kualitas konstruksi dan kualitas pelayanan yang memadai di jalan jalur Pantura Jawa.

Masalah kualitas konstruksi sudah banyak hal yang kita lakukan mulai dari menggunakan spesifikasi baru, mengubah desain perkerasan fleksible dengan rigid pavement, medesentralisasikan desain, melatih para pengawas dan pelaksana, meminta supaya kontraktor memperbaiki AMP dan lain sebagainya, namun realisasinya juga masih belum sesuai yang kita harapkan, masih banyak mutu pekerjaan yang kehandalannya belum sesuai dengan umur rencana yang kita tentukan. Jalan yang kita desain dengan umur rencana 10 tahun baru tiga tahun sudah mulai terjadi gejala kerusakan. Kualitas jalan aspal kita masih berkutat pada ; bila musim hujan terjadi lobang, dan musim panas masih terjadi rutting. Begitu juga jalan beton yang kita desain 20 tahun baru 3 tahun sudah terjadi kerusakan. Jalan beton baru berumur 3 tahun telah terjadi kerusakan yang cukup merepotkan. Kerusakan terjadi karena terjadinya differential settlement tanah dasar yang cukup besar. Retakan yang tidak beraturan,dan retakan berbentuk lengkung penurunan permukaan, lebar retakan lebih dari 2 mm, terjadi pada awal tahun dioperasikan. Retakan ini akibat beban berat lalu lintas dan daya dukung Sub- Grade yang rendah ( terjadi pemampatan ) dan tidak merata. Penyebabnya pemadatan timbunan dan Sub-Grade yang tidak baik dan merata sehingga terjadi pemampatan pada saat menerima beban berat lalu lintas.

Dalam membenahi mutu ini Proyek Induk harus mengembangkan Sistem Manajemen Mutu yang diadopsi dari ISO 9001-2000, ini merupakan Total Quality Manajemen yang subtansinya terdiri dari :

Ø Focus pada pelanggan (mengutamakan pelayanan prima).

Ø Melakukan perbaikan secara terus menerus (continous improvement).

Ø Total partisipation melalui Team Work.

Ø Societal Learning / societal net working.


PENUTUP

1) Untuk menunjang kelancaran distribusi dan mobilitas barang dan jasa perlu ditingkatkan kecepatan tempuh rata-rata jalan pantura lebih besar dari 50 km/jam dengan peningkatan kapasitas, pemeliharaan, dan mengurangi hambatan samping.

2) Kendala peralatan, dana dan sistem pengadaan harus lebih diperhatikan dan diatasi agar pemeliharaan dapat lebih intensif.

3) Penyediaan sistem transport moda lain di Pantura sangat mendesak untuk dikembangkan menjadi andalan untuk mengurangi beban angkutan jalan raya, dengan demikian dapat diperoleh sistem transportasi yang murah dan kompetitif.

4) Peningkatan mutu pelayanan dapat diciptakan melalui program, perencanaan, pelaksanaan dan pengoperasiannya sesuai peraturan, pendekatan ilmiah, secara konsisten dan terus menerus.

5) Penggunaan spesifikasi baru tentang pekerjaan perkerasan campuran berasapal panas, hendaknya menggunakan material aspal yang berkualitas dan sesuai standar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s